Laporan Mikrobiologi Koefisien Fenol

Laporan Khusus Mikrobiologi
“KOEFISEN FENOL”


                                                    


Disusun Oleh ;
-  Anpunjabi
-  Bunga Ajeng Triwahyuni
-  Kintan Putri Fadilla
-  Rinda Septi Ersinta Yuanda


SMK ANALIS KIMIA NUSA BANGSA
Jl.K.H Sholeh Iskandar/ Jl. Baru Km. 4 Cimanggu Bogor. (0251) 7536318

Kompetensi Keahlian Analis Kimia 2015




BAB I


I. TUJUAN
Agar siswa dapat mengetahui keefektifan suatu desinfektan yang larut dalam air

II. PRINSIP DASAR
Fenol ( asam fenol ) memiliki daya bunuh pada konsentrasi rendah (2-4%), karena mampu mempresipitasikan protein secara aktif, selain itu juga merusak membrane sel dengan cara menurunkan tegangan permukaan. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu desinfektan. Desinfektan adalah bahan yang digunakan untuk melaksanakan desinfektan, terutama untuk benda-benda mati. Kata ini sinonim dengan zat antiseptik, namun digunakan untuk mikroorganisme yang kontak dengan tubuh tanpa mengakibatkan kerusakan besar pada jaringan ( Waluyo, 2004 )

III. DASAR TEORI
Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik dinyatakan dengn koefisien fenol. Koefisien fenol merupakan sebuah nilai aktivitas germisidal suatu antiseptik dibandingkan dengan efektivitas germisidal fenol. Aktivitas germisidal adalah kemampuan suatu senyawa antiseptik untuk membunuh mikroorganisme dalam jangka waktu tertentu. Fenol merupakan salah satu germisidal kuat yang telah digunakan dalam jangka waktu panjang. Efektivitas senyawa antiseptik sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan lama paparannya. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama paparan akan meningkatkan. efektivitas senyawa antiseptik. Koefisien fenol yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa bahan entimikrobial tersebut kurang efektif dibanding dengan fenol. Dan sebaliknya, jika koeisien fenol lebih dari 1 maka bahan mikrobial tersebut lebih efektif jika dibandingkan dengan fenol.
Koefisien fenol ditentukan dengan cara membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang mematikan mikroorganisme dalam 15 menit, 10 menit tetapi tidak mematikan dalam 5 menit terhadap pengencaran tertinggi bahan mikrobial Zat-zat antimikroba yang dipergunakan untuk disinfeksi harus diuji keefektifannua. Cara untuk menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah dengan melakukan tes koefisien fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba dicampur dengan suatu volume tertentu biakan Salmonella thyphosa atau Staphylococcus aureus.
Beberapa bahan antimikroba tidak membunuh tetapi hanya menghambat pertumbuhan bakteri dalam konsentrasi kecil. Berdasarkan hal ini maka perlu diketahui MIC (Minimum Inhibitor Consentration) dan MKC ( Minimum Killing Consentration) bahan anrimikroba terhadap mikroorganisme. Dalam praktikum MIC didefenisikan sebagai konsebtrasi terendah bahan antimikroba yang menghambat pertumbuhan. MIC merupakan petunjuk konsentrasi yang harus digunakan jika akan membunuh mikroorganisme tertentu, seperti antiseptika desinfektan, obat antimikroba, dan bahan antibiotik.



BAB II


IV. ALAT DAN BAHAN

ALAT                                               BAHAN

1. Autoclave                                  1. Aquadest steril
2. Batang pengaduk                      2. Biakan murni mikroba Staphylococcus aureus
3. Bulf                                           3. Fenol
4. Cawan petri                               4. NaCl fisiologis
5. Gelas ukur                                 5. Media Nutrient Agar
6. Hotplate                                     6. Sampel Desinfektan
7. Incubator
8. Kaca arloji
9. Labu Erlenmeyer
10. Neraca
11. Pipet ukur1ml,5ml,10ml &25ml
12. Kawat Ose
13. Stopwach

V. PROSEDUR KERJA


A. MEMBUAT MEDIA NUTRIEN AGAR

1) Ditimbang 20 gram media NA
2) Dilarutkan di dalam labu Erlenmeyer sampai volume larutan 250ml
3) Dihomogenkan dan dipanaskan sampai mendidih
4) Dipipet 15ml media NA dan dimasukan ke 18 tabung reaksi
5) Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm

B. MEMBUAT NaCl FISIOLOGIS
1) Ditimbang 0.9 gram NaCl (p.a)
2) Dilarutkan kedalam labu Erlenmeyer menggunakan aquadeststeril sampai volume larutan 100ml
3) Disterilisasi basah menggunakan autoclave selama ± 1jam dalam suhu 121°C tekanan 1 atm

C. PEMBUATAN INOKULUM BAKTERI
1) Bakteri Staphylococcus aureus sebelumnya telah ditanam pada agar nutrisi (Nutrient Agar) miring dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam.
2) Disiapkan tabung reaksi berisi 7ml NaCl fisiologis
3) Dipindahkan biakan S. aureus tersebut masing-masing sebanyak 1 ml ke dalam 5 tabung reaksi yang masing-masing telah berisi larutan 9ml NaCl fisiologi.

D. PEMBUATAN LARUTAN FENOL
1) 2,5 g fenol dalam 90 ml air aquadest steril.
2) Dikemudian dipipet 1mL kedalam tabung reaksi yang berisi 4mL aquadest steril konsentrasi menjadi 1:100
3) Dipipet 1 ml larutan fenol masukan kedalam erlenmayer yang telah berisi 5 ml aquadest steril konsentrasi pengenceran 1:120

E. PEMBUTAN LARUTAN DESINFEKTAN
1) Disiapkan sampel desinfektan, siapkan 4 tabung resaksi yang telah berisi aquadest steril dengan volume yang berbeda-beda di dalamnya yaitu 9 ml, 7 ml, 4,5 ml, dan 9 ml, secara berurutan
2) Dilakukan pengenceran pertama dengan mempipet 1 ml larutan desinfektan ke dalam 9 aquadest steril sehingga konsentrasi menjadi 1:10
3) Dipengenceran selanjutnya adalah dengan memindahkan 1 ml desinfektan ke dalam erlenmayer berisi 7 ml aquadest steril. Konsentrasi desinfektan pada erlenmayer ini adalah 1:80
4) Dipindahkan 1 ml desinfektan ke dalam erlanmayer yang berisi 4,5 ml aquadest steril sehingga konsentrasi kini 1:100
5) Dipipet 1 ml desinfektan ke dalam erlanmayer berisi 9 ml aquadest steril sehingga konsentrasi pada erlenmayer ini adalah 1:150
6) Media, bakteri uji, larutan fenol, dan desinfektan telah disiapkan. Dengan demikian kita dapat melakukan inokulasi bakteri uji dalam desinfektan dan fenol dengan memperhitungkan waktu kontak 5, 10, dan 15 menit secara akurat.

F. UJI FENOL
1) Disiapkan 18 cawan petri berisi media NA yang telah mengeras
2) Diuji Fenol 1:90
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F5’ 1:90.
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F10’ 1:90.
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:90.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F15’ 1:90.
3) uji fenol 1:100
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F5’ 1:100.
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu sampai 10 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F10’ 1:100.
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,2 ml ke dalam 5ml larutan fenol 1:100.tunggu sampai 15 menit, ambil lagi 1 ose kemudian gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel F15’ 1:100.
4) uji desinfektan 1:10
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:10. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D5’ 1:10
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:10. Tunggu sampai 10 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:10
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:10. Tunggu sampai 15 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:10
5) uji desinfektan 1:80
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:80. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D5’ 1:80
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:80. Tunggu sampai 10 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:80
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:80. Tunggu sampai 15 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:80
6) uji desinfektan 1:100
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:100. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D5’ 1:100
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:100. Tunggu sampai 10 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:100
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:100. Tunggu sampai 15 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:100
7) Diiuji desinektan 1:150
a. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:150. Tunggu sampai 5 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D5’ 1:150
b. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:150. Tunggu sampai 10 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D10’ 1:150
c. Dipipet inokulum sebanyak 0,5 ml ke dalam larutan desinfektan 1:150. Tunggu sampai 15 menit, ambil 1 ose dari campuran dan lakukan gores pada cawan petri yang berisi media NA berlabel D15’ 1:150
8) Diinkubasi cawan petri yang telah selesai digores pada suhu 36 ± 1º C selama 24 jam.
9) Diamati ada tidaknya pertumbuhan bakteri pada setiap cawan petri
Pengamatan :
(+) keruh : ada pertumbuhan
(-) jernih : tidak ada pertumbuhan



VI. PENGAMATAN

1) Data penimbangan NaCl
Bobot kaca arloji + zat    = 39,7193 g
Bobot kaca arloji kosong = 38,8189 g
Bobot zat                         =    0,9004 g

2) Sterilisasi aquadest steril
Jam masuk = 14.13 WIB
Jam sterilisasi = 14.50 WIB
Jam selesai sterilisasi = 15.05 WIB
Jam keluar = 15.10 WIB

3) Data penimbangan NA
Bobot kaca arloji + zat     = 59,9124 g
Bobot kaca arloji kosong = 35,5686 g
Bobot zat                          = 20,0001 g

Bobot kaca arloji + zat     = 55,5688 g
Bobot kaca arloji kosong = 35,5686 g
Bobot zat                          = 20,0002 g

4) Sterilisasi NA
Jam masuk = 14.13 WIB
Jam sterilisasi = 14.50 WIB
Jam selesai sterilisasi = 15.05 WIB
Jam keluar = 15.10 WIB

5) Data penimbangan Fenol
Bobot kaca arloji + zat = 28,1650 g
Bobot kaca arloji kosong = 27,1648 g
Bobot zat = 1,0002 g

6) Pengamatan koefisien fenol


Desifektan
Pengenceran
Waktu inkubasi 24 jam
5 menit
10 menit
15 menit
Fenol
1:100
Mati
Hidup
Mati
1:120
Mati
Mati
Mati
Contoh uji
1:10
Mati
Mati
Mati
1:80
Hidup
Hidup
Hidup
1:100
Hidup
Hidup
Hidup
1:150
Hidup
Hidup
Hidup
Desifektan
Pengenceran
Waktu inkubas 48 jam
5 menit
10 menit
15 menit
Fenol
1:100
Mati
Hidup
Mati
1:120
Hidup
Hidup
Mati
Contoh uji
1:10
Hidup
Mati
Hidup
1:80
Hidup
Hidup
Hidup
1:100
Hidup
Hidup
Hidup
1:150
Hidup
Hidup
Hidup


VII. PEMBAHASAN


Dari pengamatan praktikum kali ini didapatkan hasil tes fenol, suatu desinfektan dengan konsentrasi 1:100 & 1:120. Tes fenol dengan pengenceran 1:100 inkubasi 24 jam pada tabel di atas menunjukkan bahwa bakteri pada menit 5 bakteri mati, menit 10 bakteri hidup, dan menit 15 bakteri mati. Pengenceran 1:120 inkubasi 24 jam bahwa bakteri pada waktu 5-15 menit bakteri mati. Tes fenol dengan pengenceran 1:100 inkubasi 48 jam pada tabel di atas menunjukkan bahwa bakteri pada menit 5 bakteri mati, menit 10 bakteri hidup, dan menit 15 bakteri mati. Pengenceran 1:120 inkubasi 24 jam bahwa bakteri pada waktu 5-10 menit bakteri hidup, dan pada menit 15 bakteri mati.
Pada pengenceran suatu desinfektan 1:10 24 jam, menunjukkan bahwa bakteri mati sampai menit ke-10 namun setelah 15 menit, bakteri tersebut hidup. Sementara pada pengenceran 1:80, pada menit ke 5 mati tetapi pada saat menit 10 mati sampai ke 15 hidup. Pada penganceran desinfektan 1:100 bakteri pada waktu 5-15 menit bakteri hidup semua. Dan pada pengenceran desinfektan yang terakhir, yaitu 1:150, terdapat bakteri sama seperti 1:100 dari waktu 5-15 terdapat bakteri. Pada pengenceran suatu desinfektan 1:10 48 jam, menunjukkan bahwa bakteri hidup pada menit ke 5, pada saat menit 10 bakteri mati, dan pada saat menit 15 bakteri hidup. Sementara pada pengenceran 1:80, pada menit ke 5 sampai menit 15 hidup. Pada penganceran desinfektan 1:100 bakteri pada waktu 5-15 menit bakteri hidup semua. Dan pada pengenceran desinfektan yang terakhir, yaitu 1:150, terdapat bakteri sama seperti 1:100, dari waktu 5-15 terdapat bakteri.
Faktor-faktor kemungkinan penyebab terjadinya kesalahan kami antara lain adalah:
Pengerjaan praktikum secara berkala
Kegagalan yang terjadi dalam praktikum ini mungkin juga disebabkan oleh pengerjaan cawan petri Uji Disinfektan secara berkala yang saat itu dimaksudkan untuk mempersingkat waktu pengerjaan. Pengerjaan secara paralel tersebut telah mengakibatkan ketidakakuratan dan ketidaktelitian perhitungan waktu yang diperlukan.
Ketidakakuratan dalam pengambilan bakteri menggunakanpipet ukur. Dalam menginokulasi kuman uji terhadap desinfektan, kami memindahkan bakteri tersebut hanya dengan pipet ukur sebanyak 0,5ml. terdapat kemungkinan bakteri terlalu banyak dibandingkan dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebab pada percobaan kami, banyak bakteri yang hidup. Pengambilan bakteri dengan pipet ukur mungkin dapat lebih akurat.


Daftar Pustaka :


o http://danggianap.blogspot.com/2014/01/koefisien
o Waluyo, Lud. 2004, Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang









Comments

Popular posts from this blog

Karya Tulis Cybercrime

DuCATi as Dua belas Chemistry Analyst Tiga

SKA-One!